Nilai TKA SMA Dihitung dengan IRT — Bukan Sekadar Jumlah Jawaban Benar
Selama ini banyak siswa mengira nilai ujian dihitung sederhana: jumlah jawaban benar dibagi jumlah soal, dikali seratus. Untuk Tes Kemampuan Akademik, anggapan itu tidak berlaku. Kemendikdasmen mengolah nilai TKA dengan Item Response Theory (IRT) atau teori respons butir.
Apa itu IRT
IRT menilai berdasarkan karakteristik tiap butir soal, bukan hanya benar atau salahnya. Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyebut metode yang dipakai adalah Model 2 Parameter Logistics — model yang memperhitungkan dua hal pada setiap soal:
| Parameter | Artinya |
|---|---|
| Tingkat kesulitan | Seberapa sulit soal itu bagi peserta pada umumnya. |
| Daya beda | Seberapa baik soal itu memisahkan peserta yang menguasai materi dari yang belum. |
Kedua angka ini bukan ditebak penyusun soal, melainkan dihitung dari pola jawaban seluruh peserta setelah ujian berlangsung.
Akibatnya: dua siswa, jumlah benar sama, nilai berbeda
Ini bagian yang paling sering membingungkan. Dua peserta sama-sama menjawab benar 20 soal, tetapi nilainya bisa berbeda — misalnya yang satu 85 dan yang lain 90 — karena setiap butir soal punya bobot skor yang berbeda. Peserta yang berhasil menjawab soal-soal sulit dinilai lebih tinggi daripada peserta yang hanya mengumpulkan soal mudah.
Jadi pertanyaan "benar berapa?" tidak lagi cukup untuk menebak nilai. Yang menentukan adalah soal mana yang berhasil dijawab.
Kenapa cara ini dipilih
Alasannya keadilan antar paket soal. Dalam ujian berbasis komputer, peserta tidak menerima kumpulan soal yang persis sama. Kalau penilaian memakai jumlah benar, peserta yang kebetulan mendapat paket lebih mudah akan diuntungkan. IRT menutup celah itu: bobot tiap soal disesuaikan dengan tingkat kesulitannya, sehingga nilai antar paket bisa dibandingkan secara setara. Metode ini juga dipakai pada UTBK, jadi bukan hal baru di dunia asesmen Indonesia.
Bagaimana dengan rentang nilainya
Hasil perhitungan IRT kemudian ditransformasikan ke skala pelaporan. Untuk jenjang SMA/MA/SMK, nilai TKA 2026 dilaporkan dalam rentang 200 sampai 800, dengan pembulatan dua angka di belakang koma, dan predikat Istimewa diberikan pada nilai 725,00 ke atas. Jenjang SD dan SMP memakai skala 0–100 dengan batas Istimewa 95,00.
Batas antar kategori capaian — Kurang, Memadai, Baik, dan Istimewa — tidak ditentukan asal tebak. Penentuannya lewat proses standard setting dengan metode Extended Angoff yang melibatkan sekitar 125 guru dari berbagai provinsi.
Empat hal yang berubah dalam cara belajar
- Jangan langsung menyerah pada soal sulit. Justru di situ nilai terbesar berada. Sisihkan waktu untuk kembali ke soal yang dilewati, jangan tinggalkan kosong begitu saja.
- Konsistensi lebih bernilai daripada keberuntungan. Menjawab benar soal mudah tetapi gagal di soal sedang memberi gambaran kemampuan yang berbeda dengan pola sebaliknya — dan IRT membaca pola itu.
- Latihan harus mencakup semua tingkat kesulitan. Berlatih hanya di soal mudah membuat nilai terasa bagus saat latihan, lalu jatuh saat ujian sebenarnya.
- Nilai latihan bukan ramalan nilai resmi. Aplikasi latihan mana pun — termasuk milik kami — tidak memiliki parameter butir resmi hasil kalibrasi Pusmendik, karena parameter itu baru ada setelah ujian nasional berlangsung dan tidak dipublikasikan.
Yang tetap sama
Meski cara menghitungnya berubah, yang diuji tidak berubah: penguasaan materi. Tidak ada strategi menjawab yang bisa mengakali IRT — tidak ada pola jawaban ajaib, tidak ada urutan pengerjaan yang menaikkan nilai dengan sendirinya. Cara menaikkan nilai tetap satu: menambah soal yang benar-benar Anda kuasai, terutama yang tingkat kesulitannya di atas rata-rata.
Ketentuan resmi dapat berubah. Selalu rujuk pengumuman Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen dan informasi dari sekolah Anda, bukan pesan berantai di grup.